JEMBATAN MERAH PUTIH MEMPERLANCAR PERHUBUNGAN DI KOTA AMBON

Jembatan Merah Putih atau sering juga disebut Jembatan Martafons akan segera difungsikan, Keberadaan Jembatan Merah Putih akan berdampak besar pada dunia usaha di Kota Ambon, yang mulai bangkit dalam 10 tahun terakhir, pascakonflik horizontal yang membuat berbagai sendi kehidupan masyarakat di Ibu Kota Provinsi Maluku itu porak-poranda.

Bila jembatan itu sudah dibuka untuk umum, transportasi dari Bandara Internasional Pattimura ke Pusat Kota Ambon atau sebaliknya akan makin lancar. Tanpa itu, waktu berkendara yang dibutuhkan sekitar 1-1,5 jam, tergantung pada kelancaran lalu lintas jalan putar atau tingkat kepadatan di pelabuhan feri Galala-Poka yang selama ini menjadi dua akses pilihan. Akan tetapi, bila jembatan sudah bisa dilalui, dibutuhkan waktu sekitar 30 menit. Makin singkatnya jarak dan waktu tempuh, tentu saja sangat "matching" dengan prinsip "time is money" yang berlaku di kalangan pengusaha.

Jembatan Merah Putih juga akan mempermudah akses para mahasiswa Universitas Pattimura yang berjumlah sekitar 25.000 untuk beraktivitas di Poka. Selama ini sarana yang mereka pergunakan adalah angkutan ferry, perahu dan speedboad untuk menuju kampus Poka.

Para pengguna Jembatan Merah Putih Galala-Poka seperti motor dan mobil tidak akan dikenai biaya bila jembatan terbesar di Indonesia Timur itu sudah dioperasikan untuk umum. “Semua gratis". Ini merupakan sumbangan pemerintah pusat untuk Rakyat Maluku. Tidak ada pungutan dan  biaya perawatannya juga ditanggung oleh pemerintah. Namun dilarang pejalan kaki untuk singgah di atas jembatan karena dapat mengganggu arus lalu lintas..




Jembatan Merah Putih dibangun sejak 17 Juli 2011 dengan biaya sebesar Rp 772,9 miliar. Dana tersebut termasuk biaya pembangunan underpass Jalan Sudirman sebagai tempat berputar kendaraan dari dan menuju ke Jembatan Merah Putih.

Jembatan yang dibangun dengan sistem cable stayed ini menghubungkan Poka dan Galala di kawasan Teluk Ambon. Jembatan ini diharapkan dapat mempersingkat jarak dan waktu tempuh dari kota Ambon menuju Bandara Pattimura yang berkisar 35 Km dan sebaliknya, sehingga biaya operasi kendaraan dapat berkurang.







Selama ini harus ditempuh selama 60 menit dengan memutari Teluk Ambon. Alternatif lain adalah dengan menggunakan kapal penyeberangan (ferry) antara Poka dan Galala dengan waktu tempuh sekitar 20 menit, ditambah waktu antri.

Secara teknis, panjang jembatan tersebut adalah 1.140 m yang terbagi ke dalam tiga bagian yaitu: Jembatan Pendekat di sisi Desa Poka sepanjang 520 m, Jembatan Pendekat di sisi Desa Galala sepanjang 320 m, dan jembatan utama sepanjang 300 m yang merupakan tipe jembatan khusus, sistem beruji kabel atau cable stayed, dengan jarak antar pilon sepanjang 150 m.

SUASANA NATAL DI KOTA AMBON MANISE

Hari Natal merupakan hari yang spesial untuk umat kristiani di seluruh dunia. Natal merupakan moment berkumpul bagi sanak keluarga yang jauh dari perantauan. Semua anggota keluarga yang jauh datang berkumpul bersama-sama menikmati sukacita natal.



Demikian pula yang terjadi di kota Ambon Manise. Moment pulang kampung dimanfaatkan untuk bertemu orang tua dan orang yang dikasihi. Merayakan natal di kota Ambon Manise sangat terasa perbedaan karena mulai masuk bulan desember sudah diadakan perayaan natal dimana-mana.

 

Walaupun perayanan Natal dirayakan di kota-kota besar dan terkenal tetapi perayanan Natal di Kota Ambon terasa sangat berbeda. Suasana “Kebathinan” dalam perayanan Natal lebih terasa di Kota Ambon Manise.





Kota Ambon yang terkenal dengan "City Of Music" - Musik dan irama natal mengalun terdengar di telinga setiap sudut dan tempat. Di tambah hiasan dan dekorasi natal di rumah-rumah umat kristiani maupun di jalan-jalan.


Pohon Terang sebagai simbol Natal menghiasi Kota Ambon Manise. MURI (Museum Rekor Indonesia) memberikan Sertifikat Rekor Muri sebagai Penghargaan yang diabadikan dengan nomor rekor ke-7274 karena terdapat lebih dari 5.000 pohon Terang dalam berbagai ukuran dan bentuk dibuat oleh masyarakat di Kota Ambon.

 

Suasana Natal sangat terasa di Ambon dan sepanjang mata memandang terlihat beraneka pohon Terang. Pohon Terang yang dibuat oleh masyarakat ada yang berasal dari bahan daur ulang. Pemandangan pohon Terang dari kota sampai  ke gunung-gunung dapat terlihat sangat menarik dihiasi berbagai ornamen serta lampu warna-warni sehingga suasana semakin semarak dan penuh hikmat.


Artikel Terkait :



ALAT TRANSPORTASI FERRI GALALA - POKA KOTA AMBON

Kota Ambon dengan bentuk pulau seperti huruf "U" terbalik memiliki salah satu teluk yang namanya Teluk Ambon Baguala. Teluk yang menjorok ke dalam ini kelihatan seperti sebuah danau yang besar.
Untuk mempersingkat waktu tempuh dari kota Ambon menuju Bandara Pattimura dapat mempergunakan alat transportasi Ferry yang menghubungkan Galala - Poka.
Ferry Galala - Poka sering dipergunakan oleh para Mahasiswa Unpatti untuk ke kampus, karena Universitas Pattimura terletak di daerah Poka. 

Tarif tiket Transportasi Ferry - Galala untuk penumpang de­wasa Rp 3.000, anak-anak Rp 2.000, kendaraan roda dua (sepeda motor) golongan II  Rp 7.000 dan untuk ken­daraan golongan IV  adalah Rp 29.000.

Kapal Ferry yang melayani penyeberangan Galala - Poka biasanya 3 buah Kapal Ferry, 2 kapal Ferry milik ASDP dan 1 Kapal Ferry milik Perusahaan Daerah Panca Karya.

Saat menyeberangan dengan Kapal Ferry Galala - Poka dapat dinikmati pemandangan indah teluk Ambon. Dari Jauh terlihat Gunung Salahutu yang menjulang tinggi. Di sisi kiri terlihat Jembatan Merah Putih dengan perahu-perahu yang melintas dibawahnya. Sedangkan pada bagian sisi kanan akan terlihat pangkalan Angkatan Laut di Halong.

Saat ini Jembatan Merah Putih masih dalam tahap pembangunan. Mungkin setelah selesai pembangunan jembatan ini kita tidak bisa melihat Kapal Ferry Galala lagi karena kendaraan sudah melewati jembatan.

Selain Ferry Galala-Poka, pada dermaga Ferry Galala juga terdapat beberapa kapal Ferry dengan tujuan Pulau Buru seperti Namlea dan Tujuan Namrole - Leksula.

MUSIM DURIAN DI KOTA AMBON

Kota Ambon kali ini bukan banjir air namun "banjir Durian". Musim durian menguntungkan para pemilik "dusung" yang ditumbuhi dengan pohon durian. Pohon durian sudah ada sejak dulu dalam lahan-lahan milik masyarakat dan tumbuh dengan sendirinya. Namun sekarang sudah diusahakan untuk diperbanyak dan dikembangbiakan pohon buah-buahan ini.

Durian yang hadir di Kota Ambon, datang dari berbagai tempat. Tidak hanya dari Pulau Ambon sendiri tetapi masuk dari Pulau Seram. Pulau Seram merupakan pulau yang lebih luas dari Pulau Ambon. Pulau Seram memiliki wilayah seluas 18.625 km2 , dengan panjang 340 km dan lebar 60 km. Titik tertingginya ialah Gunung Binaiya, setinggi 3.019 m di atas permukaan laut sedangkan Pulau Ambon hanya 359,45 km2.

Durian-durian ini dijual sepanjang Jalan Mardika, dan banyak lokasi lain di kota Ambon, seperti Passo, Batu Meja, depan Rehoboth, dll. Sehingga begitu banyak durian dijual dimana-mana.


http://ambon.irshut.com/ambon-city-3.html

Harga durian berkisar antara Rp. 5.000 - Rp. 15.000, rasanya tidak kalah nikmat dengan durian-durian lain di Indonesia. Walaupun banyak begini, ternyata bisa habis juga karena banyak orang yang suka makan durian, walaupun ada yang tak tahan dengan baunya yang menusuk hidung.

Kalau memakan durian apakah tidak berbahaya ??? Menurut mitos durian mempunyai kadar kolesterol yang tinggi. Namun apa kata Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika dalam websitenya http://balitbu.litbang.deptan.go.id. 

"Rumor yang berkembang di masyarakat yang merugikan bagi durian yaitu kandungan kolesterol. Belum ada diatas dunia ini tanaman yang menghasilkan kolesterol. Bahkan sebenarnya 80% kolesterol berasal dari sintesa di dalam tubuh kita sendiri dan sisanya 20% berasal dari lemak hewani. Demikian juga rumor tentang kandungan alcohol pada durian. Lagi-lagi informasi ini sangat tidak tepat. Karena sesungguhnya tidak ada tanaman di atas bumi ini yang menghasilkan alkohol, kecuali karena fermentasi gula atau karbohidrat yang dikandungnya". 

Jadi jangan salah sangka terhadap durian apalagi sampai menfitnahnya.. he..he.. he.. Namun memakan sesuatu harus secukupnya jangan terlalu berlebihan agar anda tetap sehat...
Selamat Menikmati......

LAIN DULU LAIN SEKARANG DEPAN AMBON PLAZA

Lain dulu lain sekarang, inilah tampilan depan Ambon Plaza yang biasa disingkat "AMPLAZ".  Amplaz merupakan salah satu pusat perbelanjaan yang terletak di jantung Kota Ambon, tidak seberapa jauh dari Kantor Gubernur dan Gong Perdamaian Maluku.

Setiap hari aktivitas jual beli masih ramai di pusat perbelanjaan ini, walaupun saat ini Amplaz sudah mendapat saingan dari ACC (Ambon City Center) di Passo dan MCM (Maluku City Mall) di Tantui.




Kalau dilihat puluhan tahun yang lalu di tempat ini hanya sedikit orang yang berlalu-lalang, tidak ada kendaraan yang melintasi. Begitu sunyinya Depan Ambon Plaza tempo dulu. Mungkin saat foto ini diambil anda belum hadir di dunia ini. Tahun berapa ya foto depan Amplaz ini ??

Depan Amplaz Tempo Dulu

Selain amplaz (Ambon Plaza), banyak tempat yang perlu dikunjungi kalau berada di Kota Ambon. Tempat-tempat wisata dan hotel terbaik di Ambon perlu anda ketahui sebelum menginjakan kaki di Kota Ambon. Kota Ambon dikenal dengan julukan Ambon Manise yang berarti Ambon yang Manis, karena keindahan alam dan tempat-tempat wisata terutama wisata bahari.

ALEXANDER JACOB PATTY PAHLAWAN NASIONAL MALUKU

Ini adalah salah satu jalan protokol di Kota Ambon yang dinamakan A.Y. Patty. Nama ini berasal dari seorang pahlawan nasional asal Maluku yaitu A.J. Patty atau nama panjangannya Alexander Jacob Patty.


Alexander Jacob Patty lahir pada tanggal 15 Agustus 1901 di Desa Nolloth Pulau Saparua. Ia keturunan keluarga besar Patty di negeri Nolloth Pulau Saparua. Setelah menamatkan pendidikan dasarnya pada “Saparoeasche School” di kota Saparua, Alex melanjutkan studinya ke Surabaya dan memasuki sekolah kedokteran NIAS (Nederlandsche Indische Aartsens School). Baru pada tingkat pertama Alex sudah dikeluarkan dari sekolah karena sifat dan tingkah lakunya yang ekstrim. Ia tidak senang dengan Pemerintah Belanda karena politik diskriminasi terhadap kaum militer Ambon dalam KNIL. 



Pada tahun 1919, Alex pindah ke Semarang dan mulai aktif dalam dunia kewartawanan. Pertama kali mendirikan Perkumpulan Kemakmuran Rakyat Ambon (Maluku). Kemudian karena perkembangan gerakan kebangsaan, organisasi yang bersifat sosial ini ditinggalkan oleh Patty dan mendirikan organisasi baru yang bersifat politik yaitu “Sarekat Ambon” pada tanggal 9 Mei 1920 dan membawa ide organisasi ini ke dalam ide Nasionalis Indonesia. Pada tahun 1922, A. J. Patty masuk dalam “Radikale Consentratie” (gabungan partai radikal). Sifat-sifat radikal dan revolusioner Patty, ditentang oleh para rekannya dari “Ambonsche Studie Fonds”, namun ia tetap membawa Sarekat Ambon dalam semangat kebangsaan Indonesia. Ide Sarekat Ambon terus disiarkan melalui majalah Mena Muria dan di kota-kota besar di Jawa dibuka cabang Sarekat Ambon. 

Sarekat Ambon juga mempunyai bagian khusus untuk wanita, yaitu organisasi “Ina Tuni”. April 1923, A. J. Patty memperkenalkan ide Sarekat Ambon kepada masyarakat Ambon. Sesuai kondisi didirikan dahulu suatu Komite Sarekat Ambon dan A. J. Patty segera berkeliling ke negeri-negeri mempropaganda ide Sarekat Ambon. Tahun 1924, Patty berhasil dipilih sebagai anggota Ambon Raad dan di lembaga perwakilan ini ia mulai memperjuangkan nasib rakyat, namun politiknya ditentang keras oleh para raja, yaitu “Regenten Bond”. Ia dituduh berbahaya oleh pemerintah, padahal rakyat sangat simpatik pada Sarekat Ambon. Karena dituduh melanggar hukum (adat) dan menghasut rakyat, ia ditangkap dan ditahan oleh Asisten Residen. Kemudian dibawa ke Makassar dan diadili oleh “Raad van Justitie”. Setelah dihukum, tahun 1942, Patty diringkus ke Bengkulu (Suamatera) kemudian ke Boven Digul (Irian Jaya) sampai pecah Perang Dunia II. Pada masa Jepang, dapat meloloskan diri ke Australia dan pada masa revolusi kemerdekaan, berjuang bersama Bung Karno dalam mempertahankan Proklamasi 17 Agustus 1945 dan Negara Kesatuan RI. Alexander Jacob Patty meninggal dunia di Badung pada tanggal 15 Juli 1947. Tokoh pejuang ini dihargai sebagai seorang “PERINTIS dan PEJUANG KEMERDEKAAN.

http://balagu.50webs.com/pahlawan/phmaluku/alexander_patty.html

HUJAN DERAS, KOTA AMBON BANJIR DAN LONGSOR LAGI

Sama seperti satu tahun yang lalu dilanda banjir, pada Tahun 2013 ini Kota Ambon dilanda banjir kembali hanya lebih awal beberapa hari saja. Tahun lalu terjadi pada 1 Agustus 2012 sedangkan tahun ini 30 Juli 2013, namun curah hujannya tidak kalah dengan tahun yang lalu. Ada tempat-tempat yang tahun lalu tidak dilanda banjir tetapi pada tahun ini ikut terkena musibah banjir.

Hujan deras yang mengguyur Pulau Ambon dan sekitarnya sejak dua hari lalu diduga telah menewaskan sekitar lima warga di berbagai tempat di Kota Ambon, Maluku.

"Seorang warga di Gudang Arang, Kelurahan Benteng (Kecamatan Nusaniwe), bernama Rudy Latuperissa sekitar 58 tahun tewas akibat banjir setinggi satu meter yang mendadak masuk rumahnya," kata Hary Timisela, 22, salah satu warga gudang Arang di Ambon, Selasa (30/7) dinihari.

Tiga orang lainnya dilaporkan meninggal dunia akibat tertimbun longsor di kawasan Bere-Bere, Kecamatan Sirimau, pada Selasa dinihari.

Bencana longsor di kawasan Bere-Bere menimpa rumah keluarga Souhuwat, namun identitas ketiga korban belum diketahui pasti. Sementara itu, seorang bocah dilaporkan hanyut saat terjadi banjir besar di Kali Galala, Kecamatan Sirimau.


 Hative Kecil


Pohon Puleh


Batu Gantung


 Talake


 Kuda Mati





Hary mengatakan, Rudy Latuperissa yang merupakan pegawai Dinas Kehutanan Provinsi Maluku diduga kuat tewas di kawasan Gudang Arang akibat terkejut ketika membuka pintu rumah dan banjir menerobos masuk secara tiba-tiba.

Sejumlah warga di Negeri Amahusu, Kecamatan Nusaniwe, juga berupaya mencari tempat berlindung yang lebih aman setelah air sungai terus meluap dan dikhawatirkan terjadi banjir bandang yang datang dari arah perbukitan.

"Semalaman kami tidak bisa tidur dan terus memantau perkembangan air yang terus sanga deras dan dikhawatirkan akan terjadi longsor seperti musibah beberapa tahun lalu," ujar Sintje Soplanit, 45, salah satu warga Amahusu.

Beberapa lokasi di daerah bantaran sungai seperti Batugajah, Skip, Mardika dan Batumerah, termasuk daerah Passo juga mengalami banjir akibat tingginya curah hujan yang terus-menerus mengguyur Pulau Ambon.

Sumber : http://www.metrotvnews.com
Sumber Gambar :
www.metrotvnews.com
www.facebook.com/Jan.kastanja
www.facebook.com/ankie.tanasale
www.facebook.com/theis.tarangi
www.facebook.com/febian.tetelay

ASIDA MAKANAN KHAS MALUKU PADA SAAT RAMADHAN

Asida salah satu makanan khas Maluku yang dapat dinikmati dengan Teh Manis atau Kopi. Asida merupakan sejenis kue bila dimakan mempunyai rasa tersendiri.
 
Bahan-bahan untuk membuat Asida:  tepung terigu, gula merah, mentega,dan bubuk kayu manis yang dicampur dengan sedikit kapulaga.

Asida biasanya banyak dijual pada saat Bulan Ramadhan. Tempat yang menjualnya di daerah Batu Merah.


Rasanya enak, manis dan kenyal.

Sumber Gambar  : http://watmen.blogspot.com


Inilah para penjual makanan di Batu Merah, termasuk  Asida makanan khas Ambon yang rasanya  manis dan enak.

Lihat Juga :

RESEP MAKANAN IKAN KUAH KUNING AMBON


Untuk menikmati Ikan Kuah Kuning, tentunya harus dimasak dulu. Di bawah ini disajikan resep untuk memasak ikan kuah kuning. Semoga dapat dimanfaatkan dan menghasilkan ikan kuah kuning yang tidak ada taranya. Resep yang disajikan berlaku untuk 6 orang, selebihnya cari makan sendiri saja.. he.. he.. he..

Bahan
  • 500 gram ikan tongkol/cakalang/tenggiri
  • 1 ½ sdt garam
  • 1 sdt asam jawa, larutkan dengan 50 ml air, saring
  • Minyak untuk menggoreng
Haluskan
  • 6 butir bawang merah
  • 5 siung bawang putih
  • 4 buah cabai merah keriting
  • 2 sdt ketumbar, sangrai
  • ½ sdt merica butiran
  • 3 cm kunyit
  • 1 sdt garam
  • ½ sdt penyedap, bila suka

  • 1 lembar daun salam
  • 4 lembar daun jeruk purut
  • 1 batang serai, ambil bagian putih, memarkan
  • 2 cm lengkuas, memarkan
  • 600 ml santan dari ½ butir kelapa
  • ½ sdt gula pasir
  • 1 ikat kecil kemangi, ambil daunnya
Cara membuat
  1. bersihkan ikan tongkol, potong-potong dan lumuri ikan dengan garam dan larutan air asam. Diamkan 10 menit, tiriskan. Goreng ikan sampai matang dan kecokelatan. Angkat, sisihkan.
  2. panaskan sedikit minyak sisa menggoreng ikan. Tumis bumbu halus, daun salam, daun jeruk purut, serai, dan lengkuas sampai harum dan matang. Beri santan dan gula pasir, didihkan sambil diaduk.
    masukkan ikan tongkol goreng, kecilkan api. Didihkan sekali lagi, angkat. 
  3. Masukkan daun kemangi, aduk rata. 

Artikel Terkait :

KARTOGRAFI DUNIA BERHUTANG KEPADA REMPAH MALUKU

Jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa di Nusantara, para pedagang Cina sudah mencapai Kepulauan Rempah di Maluku. Mereka datang untuk membeli cengkeh sejak sekitar abad ke-3 SM—mungkin bisa jauh sebelumnya.

Sementara itu cengkeh mulai populer di Eropa baru pada abad ke-8. Mereka memanfaatkannya baik sekedar pewangi, bahan campuran pengawet makanan, maupun obat. Perdagangan cengkeh telah berpusat di Malaka selama beratus-ratus tahun sebelum akhirnya Portugis menguasainya pada 1511. 

Kalau perdagangan cengkeh Nusantara telah populer sejak dua ribu tahun lalu, pala tampaknya baru sohor pada 400 tahun silam. Suatu ketika pada abad ke-17 harga buah pala sontak melejit di pasar Eropa. Penyebabnya, seorang dokter di Elizabethan, Kota London, telah mengumumkan bahwa pala merupakan satu-satunya penyembuh penyakit radang paru-paru (pneumonic plague).

David Parry dalam buku pengantar Exhibition of Antiquarian Maps and Prints of Indonesia, berpendapat bahwa pala pernah menjadi komoditi termewah di pasar Eropa pada saat itu. Kabarnya, tingkat balik modalnya berlipat hingga 32.000 persen!

Pandangan kartografi tentang Asia pertama kali muncul dalam Geographia karya Ptolemaeus pada abad ke-2. Dia merupakan seorang geografer, tetapi bukan penjelajah. Pemeriannya tentang Asia, bahwa kawasan itu tidak dapat ditembus oleh penjelajah Eropa karena lautan yang mengelilinginya.

“Penemuan besar selama dua dekade antara 1492 dan 1512 mengubah persepsi manusia tentang bumi dan menandai lahirnya kartografi Renaisans,” demikian tulis Parry.

Berbekal peta dengan presisi yang kian membaik, para penjelajah terbantu
menemukan lokasi “Kepulauan Rempah”. Mereka pun menjadi pesohor.

Penjelajahan dan pemetaan daerah baru telah didokumentasikan oleh Portugis. Sayangnya banyak peta yang tak terselamatkan—dan musnah. Peta-peta karya kartografer masa itu menunjukkan wilayah Asia dengan garis pantai yang lebih akurat dan proporsi yang mendekati geografi sesungguhnya.

Rempah di Kepulauan Maluku telah membangkitkan pengembangan terhadap sejarah dan kartografi dunia. Dengan peta-peta yang lebih baik, penjelajah samudra abad ke-15 dan ke-16 mencari rute pelayaran menuju legenda itu. 

Sebut saja Bartolomeus Diaz, Fransisco Serrão, Ferdinand Magellan, Francis Drake. Mereka berlomba-lomba untuk mencapai lokasi itu lewat kemampuan sumber daya manusia dan teknologi dalam bidang kartografi yang lebih baik.

Dalam perkembangannya, salah satu disiplin dalam ilmu bumi tersebut memadukan geografi, astronomi, survei, seni dan teknologi pembuatan peta atau globe. Karya kartografer telah menjadi dokumen ilmiah, bahkan boleh dikategorikan hasil seni dan budaya yang menandai peradaban manusia.

Tak semua penjelajah mencapai daerah tujuannya. Christoffa Corombo—atau lebih populer dengan sebutan Christopher Colombus—yang awalnya bertujuan ke Kepulaun Rempah, namun justru menyasar ke kawasan Amerika Selatan. Atau, Ferdinand Magellan yang tewas saat pertempuran di Filipina dan tak pernah menjejakkan kakinya di Kepulauan Rempah.

Rempah telah membawa perubahan dalam peradaban dunia. Berkat rempah pula banyak muncul nama penjelajah kampiun dan para pedagang masyhur. Kartografer sohor dan penjelajah samudra Eropa berhutang budi kepada cengkeh dan pala Maluku. Dan, mereka telah membayar lunas dengan kolonialisme—babak baru tentang penderitaan dan pencerahan bagi pribumi.

Sumber : http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/07/kartografi-dunia-berhutang-kepada-rempah-maluku

PEMBANGUNAN JEMBATAN MERAH PUTIH



JEMBATAN MERAH PUTIH GALALA POKA

DIATAS INI GAMBAR JAMBATAN GALALA, DI SAMPING ITU DORANG
ADA SEMENTARA BANGUN JAMBATAN MERAH PUTIH.
KALO JAMBATAN INI SU JADI ORANG MAU PIGI DI BANDARA LAHA
DAN PIGI UNPATTI SENK SUSAH LAI.
JAMBATAN MERAH PUTIH AKANG SUBANGUN DARI TAHUN 2011.
JAMBATAN INI KASIH HUBUNG GALALA DENG POKA.
SELAMA INI MAU PIGI KA POKA DARI GALALA NAIK FERRY.
ATAU DI PANTE GALALA ADA ORANG PANGGAYONG PARAHU.
BAYAR 5000 RUPIAH BISA NAIK PARAHU KA SABALAH.

JEMBATAN MERAH PUTIH GALALA POKA

JAMBATAN MERAH PUTIH RENCANA HABIS TAHUN 2014,
DENG BESAR BIAYA Rp 416,75 MILYAR.
JAMBATAN NI PUNYA PANJANG 300 METER, TAPI DARI TEMPO
DONG SUBANGUN JAMBATAN 760 METER
JADI PANJANG TOTAL 1.060 METER.
INI JAMBATAN TERPANJANG DI INDONESIA TIMUR.

JEMBATAN MERAH PUTIH GALALA POKA

INI LOKASI LAMPU LIMA GALALA,
DONG SU CABU LAMPU LIMA - AKANG SENG ADA LAI.

JEMBATAN MERAH PUTIH GALALA POKA
PEMBANGUNAN FISIK JEMBATAN MERAH PUTIH
YANG BIKIN PT WIJAYA KARYA (PERSERO),
PT PEMBANGUNAN PERUMAHAN DAN WIKA KSO

JEMBATAN MERAH PUTIH GALALA POKA
PROYEK JAMBATAN INI DORANG BIKIN TIGA TAHUN ANGGARAN 2011
SEBESAR RP 99,97 MILIAR, 2012 SEBESAR RP115 MILIAR
DAN SISANYA RP34,63 MILIAR PADA 2013.

JEMBATAN MERAH PUTIH GALALA POKA
ITU BANYAK PARAHU DIBAWAH PEMBANGUNAN JAMBATAN.
NANTI KALO JAMBATAN SUDAH JADI, DONG SENG BISA
AMBIL PANUMPANG LAI MANYABRANG GALALA - POKA.
DONG MAU KARJA APA E E ?????

PAR MAU BIKIN JAMBATAN MERAH PUTIH PUNK UJUNG.

JOHANNES LEIMENA PAHLAWAN NASIONAL ASAL MALUKU


Dr. Johannes Leimena (lahir di Ambon, Maluku, 6 Maret 1905 – meninggal di Jakarta, 29 Maret 1977 pada umur 72 tahun) adalah salah satu pahlawan Indonesia. Ia merupakan tokoh politik yang paling sering menjabat sebagai menteri kabinet Indonesia dan satu-satunya Menteri Indonesia yang menjabat sebagai Menteri selama 21 tahun berturut-turut tanpa terputus. Leimena masuk ke dalam 18 kabinet yang berbeda, sejak Kabinet Sjahrir II (1946) sampai Kabinet Dwikora II (1966), baik sebagai Menteri Kesehatan, Wakil Perdana Menteri, Wakil Menteri Pertama maupun Menteri Sosial. Selain itu Leimena juga menyandang pangkat Laksamana Madya (Tituler) di TNI-AL ketika ia menjadi anggota dari KOTI (Komando Operasi Tertinggi) dalam rangka Trikora.




Leimeina dilahirkan di Kota Ambon. Pada tahun 1914, Leimena hijrah ke Batavia (Jakarta) dimana ia meneruskan studinya di ELS (Europeesch Lagere School), namun hanya untuk beberapa bulan saja lalu pindah ke sekolah menengah Paul Krugerschool (kini PSKD Kwitang). Dari sini ia melanjutkan pendidikannya ke MULO Kristen, kemudian melanjutkan pendidikan kedokterannya STOVIA (School Tot Opleiding Van Indische Artsen), Surabaya - cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Keprihatinan Leimena atas kurangnya kepedulian sosial umat Kristen terhadap nasib bangsa, merupakan hal utama yang mendorong niatnya untuk aktif pada "Gerakan Oikumene". Pada tahun 1926, Leimena ditugaskan untuk mempersiapkan Konferensi Pemuda Kristen di Bandung. Konferensi ini adalah perwujudan pertama Organisasi Oikumene di kalangan pemuda Kristen. Setelah lulus studi kedokteran STOVIA, Leimena terus mengikuti perkembangan CSV yang didirikannya saat ia duduk pada tahun ke 4 di bangku kuliah. CSV merupakan cikal bakal berdirinya GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) tahun 1950.

Dengan keaktifannya di Jong Ambon, ia ikut mempersiapkan Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928, yang menghasilkan Sumpah Pemuda. Perhatian Leimena pada pergerakan nasional kebangsaan semakin berkembang sejak saat itu.

Setelah menempuh pendidikan kedokterannya di STOVIA Surabaya (1930), ia melanjutkan pendidikan di Geneeskunde Hogeschool (GHS - Sekolah Tinggi Kedokteran) di Jakarta yang diselesaikannya pada tahun 1939. Ia juga dikenal sebagai salah satu pendiri Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI)
Leimena mulai bekerja sebagai dokter sejak tahun 1930. Pertama kali diangkat sebagai dokter pemerintah di "CBZ Batavia" (kini RS Cipto Mangunkusumo). Tak lama ia dipindahtugaskan di Karesidenan Kedu saat Gunung Merapi meletus. Setelah itu dipindahkan ke Rumah Sakit Zending Immanuel Bandung. Di rumah sakit ini ia bertugas dari tahun 1931 sampai 1941.

Pada tahun 1945, Partai Kristen Indonesia (Parkindo) terbentuk dan pada tahun 1950, ia terpilih sebagai ketua umum dan memegang jabatan ini hingga tahun 1957. Selain di Parkindo, Leimena juga berperan dalam pembentukan DGI (Dewan Gereja-gereja di Indonesia, kini PGI), juga pada tahun 1950. Di lembaga ini Leimena terpilih sebagai wakil ketua yang membidangi komisi gereja dan negara.

Ketika Orde Baru berkuasa, Leimena mengundurkan diri dari tugasnya sebagai menteri, namun ia masih dipercaya Presiden Soeharto sebagai anggota DPA (Dewan Pertimbangan Agung) hingga tahun 1973. Usai aktif di DPA, ia kembali melibatkan diri di lembaga-lembaga Kristen yang pernah ikut dibesarkannya seperti Parkindo, DGI, UKI, STT, dan lain-lain. Ketika Parkindo berfusi dalam PDI (Partai Demokrasi Indonesia, kini PDI-P), Leimena diangkat menjadi anggota DEPERPU (Dewan Pertimbangan Pusat) PDI, dan pernah pula menjabat Direktur Rumah Sakit DGI Cikini.

Pada tanggal 29 Maret 1977, J. Leimena meninggal dunia di Jakarta.  Selanjutnya >>>




PAHLAWAN MALUKU MARTHA CHRISTINA TIAHAHU



Martha Christina Tiahahu (lahir di Nusa Laut, Maluku, 4 Januari 1800 – meninggal di Laut Banda, Maluku, 2 Januari 1818 pada umur 17 tahun) adalah seorang gadis dari Desa Abubu di Pulau Nusalaut. Lahir sekitar tahun 1800 dan pada waktu mengangkat senjata melawan penjajah Belanda berumur 17 tahun. Ayahnya adalah Kapitan Paulus Tiahahu, seorang kapitan dari negeri Abubu yang juga pembantu Thomas Matulessy dalam perang Pattimura tahun 1817 melawan Belanda.

Martha Christina tercatat sebagai seorang pejuang kemerdekaan yang unik yaitu seorang puteri remaja yang langsung terjun dalam medan pertempuran melawan tentara kolonial Belanda dalam perang Pattimura tahun 1817. Di kalangan para pejuang dan masyarakat sampai di kalangan musuh, ia dikenal sebagai gadis pemberani dan konsekwen terhadap cita-cita perjuangannya.

Martha Christina Tiahahu

Patung Martha Christina Tiahahu
Konon waktu pendirian patung ini sangat susah diletakkan karena kurang keseimbangan. Telah dicoba beberapa kali ternyata tidak dapat berdiri dengan baik. Patung baru dapat berdiri dengan posisi seimbang ketika menghadap Laut Banda, tempat dimana Jenasah Martha Christina Tiahahu dibuang ke laut.


Sejak awal perjuangan, ia selalu ikut mengambil bagian dan pantang mundur. Dengan rambutnya yang panjang terurai ke belakang serta berikat kepala sehelai kain berang (merah) ia tetap mendampingi ayahnya dalam setiap pertempuran baik di Pulau Nusalaut maupun di Pulau Saparua. Siang dan malam ia selalu hadir dan ikut dalam pembuatan kubu-kubu pertahanan. Ia bukan saja mengangkat senjata, tetapi juga memberi semangat kepada kaum wanita di negeri-negeri agar ikut membantu kaum pria di setiap medan pertempuran sehingga Belanda kewalahan menghadapi kaum wanita yang ikut berjuang.

Di dalam pertempuran yang sengit di Desa Ouw – Ullath jasirah Tenggara Pulau Saparua yang nampak betapa hebat srikandi ini menggempur musuh bersama para pejuang rakyat. Namun akhirnya karena tidak seimbang dalam persenjataan, tipu daya musuh dan pengkhianatan, para tokoh pejuang dapat ditangkap dan menjalani hukuman. Ada yang harus mati digantung dan ada yang dibuang ke Pulau Jawa. Kapitan Paulus Tiahahu divonis hukum mati tembak. Martha Christina berjuang untuk melepaskan ayahnya dari hukuman mati, namun ia tidak berdaya dan meneruskan bergerilyanya di hutan, tetapi akhirnya tertangkap dan diasingkan ke Pulau Jawa.

Di Kapal Perang Eversten, Martha Christina Tiahahu menemui ajalnya dan dengan penghormatan militer jasadnya diluncurkan di Laut Banda menjelang tanggal 2 Januari 1818. Menghargai jasa dan pengorbanan, Martha Christina dikukuhkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional oleh Pemerintah Republik Indonesia.

    Artikel Terkait :
       




      THOMAS MATULESSY KAPITAN PATTIMURA

       Thomas Matulessy - Pattimura
      Pahlawan Maluku

      Pattimura (atau Thomas Matulessy) (lahir di Hualoy, Seram Selatan, Maluku, 8 Juni 1783 – meninggal di Ambon, Maluku, 16 Desember 1817 pada umur 34 tahun), juga dikenal dengan nama Kapitan Pattimura adalah pahlawan Ambon dan merupakan Pahlawan nasional Indonesia.

      Menurut buku biografi Pattimura versi pemerintah yang pertama kali terbit, M Sapija menulis, "Bahwa pahlawan Pattimura tergolong turunan bangsawan dan berasal dari Nusa Ina (Seram). Ayah beliau yang bernama Antoni Mattulessy adalah anak dari Kasimiliali Pattimura Mattulessy. Yang terakhir ini adalah putra raja Sahulau. Sahulau merupakan nama orang di negeri yang terletak dalam sebuah teluk di Seram Selatan".

      Namun berbeda dengan sejarawan Mansyur Suryanegara. Dia mengatakan dalam bukunya Api Sejarah bahwa Ahmad Lussy atau dalam bahasa Maluku disebut Mat Lussy, lahir di Hualoy, Seram Selatan (bukan Saparua seperti yang dikenal dalam sejarah versi pemerintah). Dia adalah bangsawan dari kerajaan Islam Sahulau, yang saat itu diperintah Sultan Abdurrahman. Raja ini dikenal pula dengan sebutan Sultan Kasimillah (Kazim Allah/Asisten Allah). Dalam bahasa Maluku disebut Kasimiliali. 


      Thomas Matulessy Pattimura 

      Thomas Matulessy alias Pattimura Pahlawan Maluku sebelum menaiki tiang gantungan dia berkata: "..beta akan mati ... tetapi nanti akan bangkit pattimura-pattimura muda, yang akan meneruskan beta punya perjuangan..." 


      Thomas Matulessy Pattimura
      Patung Pattimura

      Thomas Matulessy digantung pada tempat ini, yang sekarang disebut Lapangan Merdeka, dan dijadikan Taman Pattimura (Pattimura Park). 


      Prasasti Thomas Matulessy Pattimura Lapangan Merdeka
      Prasasti Pattimura Pada Taman Pattimura, Lapangan Merdeka

      Ada Kontraversi tentang tempat kelahiran Kapitan Pattimura, ada yang mengatakan di Negeri Hualohi, Seram Selatan tetapi banyak yang menyebutkan lahir di Negeri Haria, Porto, Pulau Saparua. Tapi yang jelas Kapitan Lahir di Maluku, 8 Juni 1783 dan meninggal di Ambon, Maluku, 16 Desember 1817 pada umur 34 tahun, atau dikenal dengan nama Thomas Matulessy atau Thomas Matulessia, adalah Pahlawan Nasional Indonesia. Sebelum melakukan perlawanan terhadap VOC ia pernah berkarir dalam militer sebagai mantan sersan Militer Inggris.

      Pattimura adalah putra Frans Matulesi dengan Fransina Silahoi. Adapun dalam buku biografi Pattimura versi pemerintah yang pertama kali terbit, M Sapija menulis, "Bahwa pahlawan Pattimura tergolong turunan bangsawan dan berasal dari Nusa Ina (Seram). Ayah beliau yang bernama Antoni Mattulessy adalah anak dari Kasimiliali Pattimura Mattulessy. Yang terakhir ini adalah putra raja Sahulau. Sahulau merupakan nama orang di negeri yang terletak dalam sebuah teluk di Seram Selatan".

      Menurut Sejarawan Mansyur Suryanegara, leluhur bangsa ini, dari sudut sejarah dan antropologi, adalah homo religiosa (makhluk agamis). Keyakinan mereka terhadap sesuatu kekuatan di luar jangkauan akal pikiran mereka, menimbulkan tafsiran yang sulit dicerna rasio modern. Oleh sebab itu, tingkah laku sosialnya dikendalikan kekuatan-kekuatan alam yang mereka takuti. Jiwa mereka bersatu dengan kekuatan-kekuatan alam, kesaktian-kesaktian khusus yang dimiliki seseorang. Kesaktian itu kemudian diterima sebagai sesuatu peristiwa yang mulia dan suci. Bila ia melekat pada seseorang, maka orang itu adalah lambang dari kekuatan mereka. Dia adalah pemimpin yang dianggap memiliki kharisma. Sifat-sifat itu melekat dan berproses turun-temurun. Walaupun kemudian mereka sudah memeluk agama, namun secara genealogis/silsilah/keturunan adalah turunan pemimpin atau kapitan. Dari sinilah sebenarnya sebutan "kapitan" yang melekat pada diri Pattimura itu bermula.


      Thomas Matulessy Pattimura


      Sebelum melakukan perlawanan terhadap VOC ia pernah berkarier dalam militer sebagai mantan sersan Militer Inggris. Kata "Maluku" berasal dari bahasa Arab Al Mulk atau Al Malik yang berarti Tanah Raja-Raja. Mengingat pada masa itu banyaknya kerajaan Pada tahun 1816 pihak Inggris menyerahkan kekuasaannya kepada pihak Belanda dan kemudian Belanda menerapkan kebijakan politik monopoli, pajak atas tanah (landrente), pemindahan penduduk serta pelayaran Hongi (Hongi Tochten), serta mengabaikan Traktat London I antara lain dalam pasal 11 memuat ketentuan bahwa Residen Inggris di Ambon harus merundingkan dahulu pemindahan koprs Ambon dengan Gubenur dan dalam perjanjian tersebut juga dicantumkan dengan jelas bahwa jika pemerintahan Inggris berakhir di Maluku maka para serdadu-serdadu Ambon harus dibebaskan dalam artian berhak untuk memilih untuk memasuki dinas militer pemerintah baru atau keluar dari dinas militer, akan tetapi dalam pratiknya pemindahn dinas militer ini dipaksakan. 


      Thomas Matulessy Pattimura
      Patung Pattimura, Siang Hari

      Kedatangan kembali kolonial Belanda pada tahun 1817 mendapat tantangan keras dari rakyat. Hal ini disebabkan karena kondisi politik, ekonomi, dan hubungan kemasyarakatan yang buruk selama dua abad. Rakyat Maluku akhirnya bangkit mengangkat senjata di bawah pimpinan Kapitan Pattimura. Maka pada waktu pecah perang melawan penjajah Belanda tahun 1817, Raja-raja Patih, Para Kapitan, Tua-tua Adat dan rakyat mengangkatnya sebagai pemimpin dan panglima perang karena berpengalaman dan memiliki sifat-sfat kesatria (kabaressi). Sebagai panglima perang, Kapitan Pattimura mengatur strategi perang bersama pembantunya. 

      Thomas Matulessy Pattimura
      Patung Pattimura, Malam Hari

      Sebagai pemimpin dia berhasil mengkoordinir Raja-raja Patih dalam melaksanakan kegiatan pemerintahan, memimpin rakyat, mengatur pendidikan, menyediakan pangan dan membangun benteng-benteng pertahanan. Kewibawaannya dalam kepemimpinan diakui luas oleh para Raja Patih maupun rakyat biasa. Dalam perjuangan menentang Belanda ia juga menggalang persatuan dengan kerajaan Ternate dan Tidore, raja-raja di Bali, Sulawesi dan Jawa. Perang Pattimura yang berskala nasional itu dihadapi Belanda dengan kekuatan militer yang besar dan kuat dengan mengirimkan sendiri Laksamana Buykes, salah seorang Komisaris Jenderal untuk menghadapi Patimura.

      Thomas Matulessy Pattimura
      Di Bawah Sinar Bulan 

      Pertempuran-pertempuran yang hebat melawan angkatan perang Belanda di darat dan di laut dikoordinir Kapitan Pattimura yang dibantu oleh para penglimanya antara lain Melchior Kesaulya, Anthoni Rebhok, Philip Latumahina dan Ulupaha. Pertempuran yang menghancurkan pasukan Belanda tercatat seperti perebutan benteng Belanda Duurstede, pertempuran di pantai Waisisil dan jasirah Hatawano, Ouw- Ullath, Jasirah Hitu di Pulau Ambon dan Seram Selatan.


      Perang Pattimura hanya dapat dihentikan dengan politik adu domba, tipu muslihat dan bumi hangus oleh Belanda. Para tokoh pejuang akhirnya dapat ditangkap dan mengakhiri pengabdiannya di tiang gantungan pada tanggal 16 Desember 1817 di kota Ambon. Untuk jasa dan pengorbanannya itu, Kapitan Pattimura dikukuhkan sebagai “PAHLAWAN PERJUANGAN KEMERDEKAAN” oleh pemerintah Republik Indonesia...... Pahlawan Nasional Indonesia. Ketuhanan yang maha esa Kemanusiaan yang adil dan beradab Persatuan Indonesia Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan kemerdekaan bagi seluruh rakyat indonesia. 


      Baca Juga :

          http://ambon.irshut.com

          Entri Populer